Google+ Followers

24 November 2011

The Limits of Reason

THE LIMITS OF REASON

Ideas on complexity and randomness originally
suggested by Gottfried W. Leibniz in 1686,
combined with modern information theory,
imply that there can never be a "theory of
everything" for all of mathematics
By Gregory Chaitin

The Limits of Reason:

'via Blog this'

18 November 2011

Carl Sagan - Profound Words of Wisdom - YouTube

Carl Sagan - Profound Words of Wisdom

Carl Sagan - Profound Words of Wisdom - YouTube: "Carl Sagan - Profound Words of Wisdom"

'via Blog this'

Carl Sagan - We Are One Planet - YouTube

Carl Sagan - We Are One Planet
Carl Sagan - We Are One Planet - YouTube: "Carl Sagan - We Are One Planet"

'via Blog this'

Michio Kaku about future civilization - YouTube

Michio Kaku about future civilization
Michio Kaku about future civilization - YouTube:

'via Blog this'

Michio Kaku: It May Take a Catastrophe Before People Wake Up - YouTube

It May Take a Catastrophe Before People Wake Up

Michio Kaku: It May Take a Catastrophe Before People Wake Up - YouTube:

'via Blog this'

Invisibility & Teleportation Possible! Michio Kaku Explains - YouTube

Invisibility and Teleportation Possible ?

Invisibility & Teleportation Possible! Michio Kaku Explains - YouTube:

'via Blog this'

16 November 2011

Waspada Musim Hujan...13 Sungai di Jakarta Tak Mampu Atasi Banjir | Republika Online

Prakiraan Banjir Jakarta 2012
Waspada Musim Hujan...13 Sungai di Jakarta Tak Mampu Atasi Banjir | Republika Online:

'via Blog this'

Global Warming ?

What do Chinese scientists think about GW, AGW and the IPCC? Recent peer-reviewed study: Fang, J.Y., Zhu, J.L., Wang, S.P., Yue, C. and Shen, H.H. 2011. Global warming, human-induced carbon emissions, and their uncertainties. Science China Earth Sciences 54: 1458-1468. Conclusions on GW: "Global warming is an objective fact with great uncertainty in the magnitude of the temperature increase." "However, this still has large uncertainties in the magnitude of the global temperature rise." On AGW: "Both human activities and natural factors contribute to climate change, but it is difficult to quantify their relative contributions." "The impacts of natural and anthropogenic factors, especially the aerosols, are uncertain." On the IPCC: "The IPCC claimed that the increase in atmospheric concentrations of greenhouse gases (including CO2) is the driving force for climate warming, but this has been questioned by the scientific community." "This conclusion (IPCC conclusion) has generated considerable controversy, and the debates have focused on the following four points: 1) it remains unclear how the human and natural factors, especially the aerosols, affect the global temperature change; 2) over the past century, the temperature change has not always been consistent with the change of CO2 concentration. For several periods, global temperatures decreased or were stable while the atmospheric CO2 concentration continuously increased; 3) there is no significant correlation between the annual increment of the atmospheric CO2 concentration and the annual anomaly of annual mean temperature; and 4) the observed significant increase of the atmospheric CO2 concentration may not be totally attributable to anthropogenic emissions because there are great uncertainties in the sources of CO2 concentration in atmosphere."

Antique Stars Could Help Solve Mysteries Of Early Milky Way

Antique Stars Could Help Solve Mysteries Of Early Milky Way

Antique Stars Could Help Solve Mysteries Of Early Milky Way:

'via Blog this'

15 November 2011

Fuzzy Hidden Markov Models For Indonesian Speech Classification

Fuzzy Hidden Markov Models for Indonesian Speech Classification
Manuscript ID: JC-IFSA08 has been accepted for publication in the Journal of Advanced Computational Intelligence and Intelligent Informatics.
This paper is scheduled to appear in Vol. 16 No. 3.
Fuzzy Hidden Markov Models For Indonesian Speech Classification
Intan Nurma Yulita1, The Houw Liong2, Adiwijaya3
Graduate Faculty, Telkom Institute of Technology
Jalan Telekomunikasi No.1, Dayeuhkolot, Jawa Barat, Indonesia
Email: intanurma@gmail.com, houwthee@yahoo.co.id, adw@ittelkom.ac.id
Abstract
Indonesia has a lot of tribes, so that there are a lot of dialects. Speech classification is difficult if the database uses speech signals from various people who have different characteristics because of gender and dialect. The different characteristics will influence frequency, intonation, amplitude, and period of the speech. It makes the system be trained for the various templates reference of speech signal. Therefore, this study has been developed for Indonesian speech classification. This study designs the solution of the different characteristics for Indonesian speech classification. The solution combines Fuzzy on Hidden Markov Models. The new design of fuzzy Hidden Markov Models will be proposed in this study. The models will consist of Fuzzy C-Means Clustering which will be designed to substitute the vector quantization process and a new forward and backward method to handle the membership degree of data. The result shows FHMM is better than HMM.
Keywords: Fuzzy, Hidden Markov Models, Indonesian, Speech, Classification, Clustering

Definitive Proof: Majority Of Scientists Do Not Support Man Made Warming Theory

Global Warming ?
Definitive Proof: Majority Of Scientists Do Not Support Man Made Warming Theory:

'via Blog this'

CBC - Global Warming Doomsday Called Off

Global Warming ?
CBC - Global Warming Doomsday Called Off:

'via Blog this'

02 November 2011

PEMODELAN IONOSFER LINTANG RENDAH GEOMAGNET DI ATAS WILAYAH INDONESIA DARI DATA GPS

Desertasi S3, ITB, 2009 ABSTRAK PEMODELAN IONOSFER LINTANG RENDAH GEOMAGNET DI ATAS WILAYAH INDONESIA DARI DATA GPS Oleh Buldan Muslim NIM : 35104002 Promotor : Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Zaenal Abidin MSc. Co-Promotor : Prof. The Houw Liong Ph.D. Co-Promotor : Dr. Ir. Wedyanto Kuntjoro MSc. Penentuan total electron content (TEC) ionosfer dan pemodelan ionosfer lintang rendah geomagnet di atas wilayah Indonesia (-2,77° sampai -20,65° lintang geomagnet) diperlukan untuk koreksi ionosfer dalam penentuan posisi presisi tinggi menggunakan GPS frekuensi tunggal. Data dan model TEC juga penting untuk analisis prekursor gempa bumi di ionosfer dalam upaya memahami kopling litosfer-atmosfer-ionosfer beberapa hari sebelum gempa bumi. Dalam penelitian ini telah dikembangkan metode penentuan TEC ionosfer dari data GPS, pemodelan TEC ionosfer di atas wilayah Indonesia dan metode pemunculan prekursor gempa bumi dari data dan model TEC ionosfer. Model konseptual kopling litosfer-atmosfer-ionosfer juga telah dikembangkan dengan melibatkan pengaruh gravitasi bumi lokal yang sebelumnya belum diperhitungkan, untuk menerangkan anomali variasi diurnal TEC ionosfer beberapa hari sebelum gempa bumi. Data pengamatan sinyal Global Positioning System (GPS) frekuensi ganda dari stasiun-stasiun GPS kontinyu di Indonesia dan sekitarnya telah digunakan untuk penurunan TEC ionosfer menggunakan metode pelevelan fase. Algoritma penentuan TEC tersebut telah diimplementasikan menggunakan software matlab yang dapat digunakan untuk mengunduh data GPS melalui file transfer protocol (ftp) dan kemudian untuk penentuan TEC ionosfer. Model ionosfer lintang rendah geomagnet di atas wilayah Indonesia telah dikembangkan berdasarkan data TEC ionosfer. Secara temporal model ionosfer tersebut dapat dikelompokkan menjadi model harian yang dikembangkan dari data TEC harian dan model bulanan yang dikembangkan dari rata-rata bulanan data TEC harian. Secara spasial model TEC harian dapat diklasifikasikan ke dalam model lokal yang didasarkan pada satu stasiun referensi GPS dan model regional yang didasarkan pada beberapa stasiun referensi GPS. Formulasi model TEC harian merupakan kombinasi dari fungsi polinom untuk merepresentasikan variasi spasial ionosfer dan fungsi harmonik untuk merepresentasikan variasi diurnal koefisien-koefisien polinom model spasial ionosfer. Orde dari fungsi polinom dan harmonik dioptimasi dengan meminimalkan kesalahan model terhadap data pengamatan. Dengan cara tersebut diperoleh model TEC harian lokal di atas Jawa Barat dari stasiun BAKO yang optimum adalah P(12,2,2) di mana angka pertama adalah orde fungsi harmonik untuk merepresentasikan variasi diurnal ionosfer, angka kedua adalah orde fungsi polinom merepresentasikan variasi lintang ionosfer dan angka terakhir adalah orde fungsi polinom untuk merepresentasikan variasi bujur ionosfer. Dengan cara yang sama model TEC harian regional yang diperoleh adalah P(12,7,3). Model TEC bulanan regional Indonesia dibuat menggunakan fungsi polinom untuk representasi variasi lintang ionosfer, fungsi harmonik untuk representasi variasi diurnal ionosfer dan fungsi linier untuk representasi respon ionosfer terhadap aktivitas matahari. Model TEC regional Indonesia yang telah diperoleh adalah P(6,5,0,1), di mana 6 adalah orde fungsi harmonik untuk representasi variasi diurnal ionosfer dalam kerangka waktu lokal, 5 adalah orde fungsi polinom untuk representasi variasi lintang ionosfer, 0 menunjukkan orde variasi bujur ionosfer yang berarti pada waktu lokal yang sama variasi bujur ionosfer diabaikan, dan 1 adalah orde fungsi polinom untuk representasi respon ionosfer terhadap aktivitas matahari yang berarti respon ionosfer terhadap aktivitas matahari adalah linier pada saat siklus matahari sedang naik dan turun. Model TEC bulanan regional yang telah diperoleh adalah TEC model sederhana ionosfer lintang rendah Indonesia (TEC MSILRI). TEC MSILRI yang didasarkan pada data TEC rata-rata bulanan pada jam tertentu dapat digunakan sebagai referensi nilai TEC pada hari-hari tenang untuk bulan tertentu di atas wilayah Indonesia sehingga dapat digunakan untuk koreksi ionosfer pada penentuan posisi GPS frekuensi tunggal pada hari-hari tenang dan untuk pemunculan anomali ionosfer baik yang terkait dengan badai matahari maupun prekursor gempa bumi. Data dan model TEC MISILRI dapat dikombinasikan untuk penurunan indek aktivitas ionosfer (indek S), yang dapat digunakan sebagai parameter cuaca antariksa di atas wilayah Indonesia. Indek aktivitas pasut diurnal TEC ionosfer (indek A) juga telah diturunkan dari data TEC harian. Analisis spasial anomali indek A beberapa hari sebelum gempa bumi besar menunjukkan bahwa indek A dapat digunakan untuk identifikasi prekursor gempa bumi menggunakan fungsi eksponensial, untuk prediksi besar gempa menggunakan model radius daerah persiapan gempa bumi dan perkiraan episenter gempa bumi menggunakan metode reseksi yang diadopsi dari metode penentuan posisi GPS. Penurunan TEC ionosfer beberapa hari sebelum gempa bumi besar dapat dijelaskan dengan model kopling litosfer-atmosfer-ionosfer yang disebabkan penurunan gravitasi bumi lokal yang dapat memodifikasi medan listrik dinamo daerah E melalui modifikasi amplitudo gelombang pasut diurnal atmosfer, dapat mempercepat drift vertikal atmosfer netral dan menurunkan drift difusi ionosfer. Anomali ionosfer yang disebabkan oleh anomali gravitasi bumi merupakan hipotesis alternatif. Berbagai upaya teori dan eksperimen lanjut diperlukan dalam rangka menguji hipotesis tersebut. Kata kunci: GPS, ionosfer, lintang rendah, Indonesia, model, indek ionosfer, anomali, prekursor gempa bumi.

31 October 2011

Big Jumps in September Solar Activity

Big Jumps in September ,2011 Solar Activity http://wattsupwiththat.com/2011/10/05/big-jumps-in-september-solar-activity-metrics/

13 October 2011

26 September 2011

SEARCH ENGINE MENGGUNAKAN METODE LATENT SEMANTIC INDEXING

ITHB, 2011

SEARCH ENGINE MENGGUNAKAN METODE LATENT SEMANTIC INDEXING
Oleh :
YOFI TOPAN KUSUMA
1105076
Pembimbing :
Prof. The Houw Liong
Ir. Inge Martina, MT.

ABSTRAK


Search Engine memegang peranan penting dalam perkembangan pencarian informasi – informasi melalui jaringan internet. Perkembangan teknologi Search engine pun semakin pesat. Salah satu keunggulan Google yaitu penggunaan algoritma yang lebih kompleks sehingga dalam setiap pencarian, Google mampu menghasilkan hasil pencarian yang lebih banyak dengan penggunaan waktu yang lebih singkat. Salah satu metode yang digunakan adalah metode indexing. Saat ini Google telah mengembangkan metode baru yang mampu mempermudah penyaringan informasi yang disebut Latent Semantic Indexing.
Ada beberapa metode yang digunakan untuk proses pencarian ini, antara lain: Term Frekuensi, Inverse Document Frekuensi, Stemming, Stopword, Cosines Similiarity Serta Latent Semantic Indexing menggunakan Singular Value Decomposition.

Penelitian ini bertujuan meningkatkan ketepatan mesin pencari dalam pencarian dokumen agar hasil pencarian dokumen lebih mendekati dengan kebutuhan pengguna. Pencarian dengan input kata kunci menggunakan indeks dokumen berdasarkan pembobotan/term weighting. Pada pencarian semantik akan dimunculkan pilihan kombinasi kata kunci pada konsep domain yang berbeda pada dokumen yang sudah ditentukan.

Kata Kunci : Search Engine, Latent Semantic Indexing. Term Frekuensi, Inverse Document Frekuensi, Singular Value Decomposition.

PERANCANGAN AWAL APLIKASI WEB MINING UNTUK MENGANALISA WEBSITE PERGURUAN TINGGI

ITHB, 2011
PERANCANGAN AWAL APLIKASI WEB MINING UNTUK MENGANALISA WEBSITE PERGURUAN TINGGI

TUGAS AKHIR
Diajukan sebagai syarat untuk menyelesaikan
Program Studi Strata-1 Departemen Teknik Informatika
Oleh :
AMORSA ERLOSIMA PRIANDA
1106056

Pembimbing :
Prof. The Houw Liong
NIK. 105042

Ir. Inge Martina, MT.
NIK. 107013


ABSTRAK

Pada saat ini sumber informasi bisa kita dapatkan dari banyak sumber, salah satu nya dengan website. Dalam suatu situs dalam dunia maya dapat berisi berbagai macam konten yang dapat kita jadikan acuan sebagai sumber informasi. Begitu pula dengan website yang ada dalam perguruan tinggi, isi dari halaman web yang terdapat dari situs perguruan tinggi juga dapat dijadikan suatu acuan dalam penilaian peringkat universitas tersebut di dunia. Webometrics merupakan salah satu acuan peringkat universitas dunia yang menilai konten yang ada di dalam suatu situs perguruan tinggi. Untuk dapat menilai isi halaman website tersebut maka isi dari halaman web tersebut harus dianalisis terlebih dahulu, apakah halaman tersebut masuk ke dalam kriteria penilaian dalam webometrics. Untuk dapat menganalisis halaman web tersebut maka digunakan metode web mining untuk mengambil informasi yang ada di halaman web , dan kemudian setiap halaman tersebut akan di klasifikasikan dan di kelompokkan menggukanan algoritma k-means.

Pembuatan tugas akhir ini bertujuan untuk dapat menganalisa suatu halaman web dari situs perguruan tinggi kemudian mengkategorikan halaman tersebut kedalam kategori tertentu berdasarkan pembobotan dari kemunculan setiap kata kunci (keyword) . Dan halaman yang sudah di klasifikasi tersebut dikelompokkan berdasarkan kategori masing-masing dengan algoritma k-means

Kata Kunci : web mining, algoritma k-means, webometrics, keyword, bobot.

The Secret Lives of Solar Flares - NASA Science

The Secret Lives of Solar Flares

The Secret Lives of Solar Flares - NASA Science

16 September 2011

Physics of the Impossible

Physics of the Impossible indicate the contribution of physics to mankind in the future.
Michio Kaku

27 August 2011

A sunshine limit to growth

A sunshine limit to growth
William Rees
The following is a brief extract from a much longer article, entitled 'The Ecology of Sustainable Development' by William Rees, which appeared in Volume 20, No 1, of the Ecologist (L3, or L18 subscription, from Worthyvale Manor, Camelford, Cornwall, PL32 9TT, tel 01840 212711).

The Second Law of Thermodynamics states that in any closed isolated system, available energy and matter are continuously and irrevocably degraded to the unavailable state. Since the global economy operates within an essentially closed system, the Second Law (the entropy law) is actually the ultimate regulator of economic activity.

'Any form of economic activity dependent on material resources therefore contributes to a constant increase in global net entropy'
All modern economies are dependent on fixed stocks of non-renewable material and energy resources. The Second Law therefore declares that they necessarily consume and degrade the very resource base which sustains them. Our material economies treat other components of the biosphere as resources, and all the products of economic activity (that is both the by-products of manufacturing and the final consumer goods) are eventually returned to the biosphere as waste. Thus, while we like to think of our economies as dynamic, productive systems, the Second Law states that in thermodynamic terms, all material economic 'production' is in fact 'consumption'. Any form of economic activity dependent on material resources therefore contributes to a constant increase in global net entropy (disorder), through the continuous dissipation of available energy and matter. It follows that contrary to the assumptions of neo-classical theory:

- There is no equilibrium in the energy and material relationships between industrial economies and the biosphere;
- Sustainable development based on prevailing patterns of resource use is not even theoretically conceivable.

The thermodynamic interpretation of the economic process therefore suggests a new definition of sustainable development which contrasts radically with present practice: sustainable development is development that minimises resource use and the increase in global entropy.

Eco-systems, unlike economic systems, are driven by an external source of energy - the sun. The steady stream of solar energy sustains essentially all biological diversity and makes possible the diversity of life on earth. Through photosynthesis, living systems concentrate simple dispersed chemicals and use them to synthesise the most complex substances known. Thus, in contrast to economic systems, eco-systems steadily contribute to the accumulation of concentrated energy, matter and order within the biosphere. In thermodynamic terms, photosynthesis is the most important materially productive process on the planet and it is the ultimate source of all renewable resources used by the human economy. Moreover, since the flow of solar radiation is constant, steady and reliable, resource production in the ecological sector is potentially sustainable over any time scale relevant to humanity. Ecological productivity is limited, however, by the availability of nutrients, photosynthetic efficiency, and ultimately the rate of energy input (the 'solar flux') itself. Eco-systems therefore do not grow indefinitely. Unlike the economy, which expands through resource conversion and positive feedback, eco-systems are held in 'steady-state' or dynamic equilibrium by limiting factors and negative feedback.

'Eco-systems, unlike economic systems, are driven by an external source of energy - the sun'
The consumption of ecological resources everywhere has begun to exceed sustainable rates of biological production. Nearly 40 per cent of terrestrial net primary productivity (photosynthesis) is already being used or co-opted by humans, one species among millions, and the fraction is steadily increasing.

'Biosphere resources are becoming increasingly scarce and there are no substitutes'
At present, markets do not even recognise such factors as nutrient recycling, soil building, atmosphere maintenance and climate stabilisation as resources. Thus, while market economics can usually price the scarce material inputs to manufacturing, it is virtually silent on the value of biosphere processes. Not surprisingly, it is these more critical resources that are becoming increasingly scarce and there are no substitutes.

'Any human activity cannot be sustained indefinitely if it uses not only the annual production of the biosphere (the 'interest') but also cuts into the standing stock (the 'capital')'
Clearly, any human activity dependent on the consumptive use of ecological resources (forestry, fisheries, agriculture, waste disposal, urban sprawl onto agricultural land) cannot be sustained indefinitely if it uses not only the annual production of the biosphere (the 'interest') but also cuts into the standing stock (the 'capital'). Herein lies the essence of our environmental crisis. Persistent trends in key ecological variables indicate that we have not only been living off the interest but also con-suming our ecological capital. This is the inevitable consequence of exponential material growth in a finite environment. In short, the global economy is cannibalising the biosphere.

This means that much of our wealth is illusion. We have simply drawn down one account (the biosphere) to add to another (material wealth). It might even be argued that we have been collectively impoverished in the process. Much potentially renewable ecological capital has been permanently converted into machinery, plant and possessions that will eventually wear out and have to be replaced at the cost of additional resources.

Heilbroner has noted that the origin of surplus in the era of industrial capitalism 'has gradually moved from trade through direct wage labour exploitation toward technological rents, and that modern-day profits consist of combinations of all three.' We can now add a fourth profit source to Heilbroner's list; the irreversible conversion of biological resources.

For human society, carrying capacity can be defined as the maximum rate of resource consumption and waste discharge that can be sustained indefinitely without progressively impairing ecological productivity and integrity. The corresponding maximum human population is therefore a function of per capita rates of resource consumption and waste production.

'Hence we are within one population doubling of the 'sunshine limit' to growth and at present rates will reach that limit in 35 years'
Through a thermodynamic analysis of food production, Bryson has estimated that about 900 square metres of cropland are required to produce the average per capita food energy requirements assuming year round cropping. With an average growing season of only 180 days, each hectare of agricultural land will theoretically support about 5.5 people. The present world population density is about 3 persons per arable hectare. Hence we are within one population doubling of the 'sunshine limit' to growth and at present rates will reach that limit in 35 years.

It should be understood that while human society depends on many ecological resources and functions for survival, carrying capacity is ultimately determined by the single vital resource or function in least supply. (On the global scale, loss of the ozone layer alone could conceivably lead to the extinction of the human species.)

Such considerations call seriously to question the Brundtland Commission's route to sustainable development through a five-to-ten-fold increase in industrial activity. Indeed, it forces a reconsideration of the entire material growth ethic, the central pillar of industrial society.

William E. Rees, Ph.D., Associate Professor of Planning and Resource Ecology, University of British Columbia, School of Community and Regional Planning, 6333 Memorial Road, Vancouver, BC, Canada V6T 1W5.

Solar Effects on Weather and Climate in the Indonesian Archipelago

Aprim, 2003

Solar Effects on Weather and Climate in the Indonesian Archipelago

The Houw Liong1)
Plato Martuani Siregar2)
Iratius Radiman3)

1)Departemen Fisika, FMIPA-ITB
2)Departemen GM , FIKTM-ITB
3)Departemen Astronomi, FMIPA-ITB

Abstract
From various stations at Geographic Latitudes from 60N to 100S throughout the Indonesian Archipelago, anomalies of Rainfall and Irradiance were collected and plotted to those of the Monthly Sunspot Number between 1948 and 2003. It is shown that there is a tight correlation between solar activity and the various geophysical variables, such as the mean temperature of Earth, the cloud cover, the sea surface temperature and the rainfall throughout the region. It is also found that there is a weak correlation between the coefficients of correlation obtained from various plots of the Number of Sunspot to Irradiance, the Irradiance to Rainfall and The Number of Sunspot to Rainfall from each station against the Geomagnetic Latitude of the stations. The coefficients of correlations increase as we go to higher Geomagnetic Latitudes. The ability of cosmic ray particles to penetrate is limited by the earth's magnetic field. In addition during solar activity the magnetic field of the solar wind increases and diminishes strongly the flux of cosmic rays. The earth's magnetic field forms a shield against charged particles everywhere except for those entering around the magnetic poles. Fields near the equator are very efficient in shielding cosmic ray penetration, because it is parallel to the earth's surface. At higher latitudes it will be less shielded, because the fields are more vertical. If it is true that a correlation exist between cosmic rays, formation of clouds and climate as some researchers suggest, than, this may well explain the marked increase of the coefficients of correlations, thus the stronger dependency of the events at higher magnetic latitudes.
This research shows that the knowledge of solar activity can be used to predict extreme weather in Indonesia.
This is the initial study at ITB to embark and promote researches on Solar Effects on Weather and Climate in the Indonesian Archipelago.
Keywords: solar cycle, geomagnetic effects, solar activity, extreme weather.

15 August 2011

PENGGUNAAN CLUSTERING DALAM ANALISIS POTENTIAL BUYER PROPERTY

ITHB, 2011

PENGGUNAAN CLUSTERING DALAM ANALISIS POTENTIAL BUYER PROPERTY

Christian Hermawan
NIM : 1107011

Pembimbing
Prof. The Houw Liong, Ph.D.
Herastia Maharani, MT.

ABSTRAK

Usaha di bidang properti saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, terbukti dengan banyaknya developer yang membangun banyak proyek, mulai dari town house, apartemen, dll. Untuk menemukan buyer para marketing pada umumnya hanya membagikan selebaran, iklan dimana-mana sehingga kurang efisien dalam tenaga, biaya dan waktu. Marketing membutuhkan suatu aplikasi yang dapat membantu dalam menghemat tenaga, biaya dan waktu.

Data mining merupakan salah satu solusi yang dapat digunakan untuk menangani masalah yang dialami oleh marketing pemasaran property. Dengan menggunakan metode clustering, maka data buyer dan property dapat di-cluster sesuai dengan karakteristiknya. Dari hasil cluster, dapat dianalisis kecocokan antara setiap pasangan cluster buyer dan property. Tugas akhir ini bertujuan untuk membuat aplikasi dengan melakukan clustering terhadap data buyer dan property, kemudian disesuaikan dengan rule pakar property sehingga dapat menentukan potential buyer dan potential property. Dengan demikian diharapkan aktivitas marketing property dapat lebih efisien dari sisi tenaga, biaya dan waktu.

Dari hasil pengujian yang dilakukan terhadap sistem yang dikembangkan, dapat dilihat bahwa sistem dapat memberikan hasil kesimpulan dan penjelasan yang baik dan sesuai dengan data yang dimasukkan oleh pengguna aplikasi. Sistem ini juga telah diuji oleh pakar dari [X]PRO Realty dengan hasil yang baik dan cukup memuaskan.

Kata Kunci : data mining, pembeli berpotensi, properti berpotensi, clustering

09 August 2011

SISTEM PAKAR PENYAKIT KULIT INFEKSI JAMUR MENGGUNAKAN BACKWARD CHAINING DENGAN BEST-FIRST SEARCH

ITHB, 2011

SISTEM PAKAR PENYAKIT KULIT INFEKSI JAMUR MENGGUNAKAN BACKWARD CHAINING DENGAN BEST-FIRST SEARCH

Martinus Elvin

Pembimbing :
Prof. Dr. The Houw Liong
Ernestasia R. Siahaan, S.T.

ABSTRAK

Kemajuan ilmu kedokteran akan semakin baik bila didukung oleh perkembangan teknologi komputer. Salah satu cabang ilmu komputer yang mendukung dan banyak digunakan di dunia kedokteran adalah sistem pakar. Sistem pakar ini dapat membantu dokter dalam mengambil keputusan dalam mendiagnosa penyakit, sehingga dapat memberi solusi yang tepat kepada pasiennya.
Berdasarkan permasalahan dan batasan-batasan yang ada, maka dilakukanlah penelitian dengan membuat sebuah sistem pakar yang terbatas pada domain penyakit kulit, yang juga dibatasi hanya pada infeksi yang disebabkan oleh jamur.
Sistem pakar ini dibangun menggunakan metode backward chaining dan teknik penelusuran best-first search Untuk itu, digunakan data statisik dari penyakit dan gejala sebagai rating, dimana penyakit dan gejala yang akan ditanyakan diurutkan dari rating tertinggi ke rating yang terendah.
Dari hasil pengujian yang dilakukan terhadap sistem yang dikembangkan, dapat dilihat bahwa sistem dapat memberikan hasil kesimpulan dan penjelasan yang baik dan sesuai dengan gejala yang dipilih oleh pasien. Sistem ini juga telah diuji oleh pakar dari RS Immanuel dengan hasil yang baik dan cukup memuaskan.
Kata Kunci : sistem pakar, penyakit kulit, infeksi jamur, backward chaining, best-first search

19 July 2011

THE PREDICTION OF DENGUE HAEMORRAGIC FEVER (DHF) IN CIMAHI

The 3rd International Conference on Electrical Engineering and Informatics (ICEEI 2011)

THE PREDICTION OF DENGUE HAEMORRAGIC FEVER (DHF) IN CIMAHI
USING HYBRID GENETIC ALGORITHM AND FUZZY LOGIC

Fhira Nhita,ST 1, Prof.Thee Houw Liong 2, Shaufiah,MT 3

1,3 Informatics Program Study in Telkom Institute of Technology
2 Bandung Institute of Technology
1 fhiranhita@yahoo.com, 2 houwthee@yahoo.co.id,
3 shaufiah@gmail.com

Abstrak
Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah nasional di bidang kesehatan. Setiap tahun angka kesakitan DBD masih tinggi. Khususnya di Cimahi, salah satu kota di provinsi Jawa Barat dimana angka kesakitan (Incidence Rate) tahun 2005 hingga 2010 di atas standar yang ditentukan Departemen Kesehatan RI.

Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian DBD, antara lain iklim dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Oleh karena itu, dalam penelitian ini, dibangun Sistem Prediksi demam berdarah yang dikaitkan dengan iklim, yang diharapkan bisa membantu memberikan informasi bagi Departemen Kesehatan tentang prediksi resiko DBD di tahun yang akan datang, sehingga Departemen Kesehatan dapat mengambil langkah preventif untuk mengurangi angka kesakitan DBD.

Sistem Prediksi yang dibangun dengan hybrid algorithm yaitu Algoritma Genetika dan Fuzzy Logic mampu menghasilkan akurasi testing 100% dalam memprediksi kondisi DBD di 6 bulan pertama pada tahun 2009 dan 2010 di kecamatan Cimahi Utara dan Cimahi Tengah. Sedangkan pada Cimahi Selatan diperoleh hasil prediksi 6 bulan pertama di tahun 2009 sebesar 100% tetapi pada tahun 2010 terjadi penurunan akurasi.


Kata kunci: demam berdarah, cimahi, algoritma genetika, logika fuzzy, system prediksi

Abstract
The incidence of Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is a national health problem in Indonesia. Every year dengue morbidity is still high. Particularly in Cimahi, one of the city in West Java province where the morbidity rate (Incidence Rate) 2005 to 2010 in the above national standard.
Many factors can affect the incidence of dengue, among others, climate and living behavioral. Therefore, the development of DHF Prediction System which is associated with a climate that is expected to help provide information for the Department of Health about dengue risk prediction in the coming year, so the Health Ministry can take preventive action to reduce morbidity of DHF.
The Prediction System that was built with a hybrid algorithm which Genetic Algorithms and Fuzzy Logic is able to obtain 100% testing accuracy in predicting the condition of dengue in the first 6 months in 2009 and 2010 in North Cimahi and Central Cimahi. While in South Cimahi, the prediction results obtained in the first 6 months of 2009 amounted to 100% but in 2010 a decline in accuracy.

Keywords: dengue haemorrhagic fever, cimahi, genetic algorithm, fuzzy logic, prediction system

07 July 2011

PEMODELAN DAN SIMULASI KENAIKAN PERMUKAAN AIR LAUT SECARA TIGA DIMENSI (3D)

PEMODELAN DAN SIMULASI KENAIKAN PERMUKAAN AIR LAUT SECARA TIGA DIMENSI (3D) DENGAN MENGGUNAKAN DATA LIDAR (Light Detecting and Ranging)

Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2011-06-14 16:33:38
Oleh : JUMADI (NIM 15104061); Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, M.T., dan Sofan Prihadi, ST. , S1 - Department of Geodetic Engineering
Dibuat : 2008, dengan 7 file

Keyword : Sea level rise, 3D modelling and simulation, LIDAR

Banjir akibat naiknya permukaan air laut merupakan permasalahan yang sering melanda daerah-daerah di pesisir pantai. Naiknya permukaan air laut pada umumnya disebabkan oleh pemanasan global. Selain pemanasan global, bencana alam seperti: gelombang badai, land subsidance, dan pasang air laut juga memberikan kontribusi yang besar terhadap naiknya permukaan air laut. Naiknya permukaan air laut akan memberikan dampak yang besar, baik dalam skala lokal maupun nasional. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara untuk melakukan pemodelan dan simulasi terhadap dampak kenaikan permukaan laut tersebut. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan melakukan pemodelan dan simulasi secara tiga dimensi (3D). Untuk memperoleh informasi tiga dimensi (3D) dapat dilakukan dengan mengunakan teknologi Airborne Laser Scanning (ALS) yang mampu menghasilkan informasi kedalaman dan topografi detail dari daerah pesisir pantai tersebut secara cepat dan akurat. Negara-negara seperti: Amerika, Kanada, dan Swedia menamakan teknologi ALS tersebut dengan nama LIDAR (Light Detecting and Ranging). LIDAR terbagi atas dua, yaitu: LIDAR untuk pengukuran kedalaman yang dikenal dengan nama Airborne Laser Hydrography (ALH) atau Airborne Laser Bathymetry (ALB), dan LIDAR untuk pengukuran topografi permukaan bumi yang disebut dengan Airborne Altimetric LIDAR. Dengan kemampuan tersebut, diharapkan teknologi LIDAR dapat membantu instansi terkait dalam penanggulangan banjir, dan lebih lanjut dapat digunakan untuk perencanaan pengaturan tata ruang dan mitigasi bencana.

Deskripsi Alternatif :

Flood as the impact of the rising of the sea levcl, is a common problem that always exists around coastal areas. The sea level rise is generally influenced by global warming. furthermore, natural disasters such as storm wave, land subsidence, as well as high tide, have also given a contribution to the sea level rise. The sea level rise will cause such a great impact, either local or national scale. Therefore, it is needed to have a way to do modeling and stimulation of the impact of the sea level rise. One of ways that can be used is by three dimensional (3D) modeling and stimulation. Information in the form of three dimensions, can be achieved by Airborne Laser Scanning (ALS) technology that can produces depth and detail topography of coastal areas quickly in fast and accurately. Nations like: American, Canada, and Swedia names ALS technology by the name of LIDAR (Light Detecting and Ranging). Based on the measured object LIDAR is divided into two. One is, LIDAR for depth measurement [Airborne Laser Hydrography (ALH) or Airborne Laser Bathymetry (ALB)]. Another is LIDAR for topographic measurement of the land surface [Airborne Altimetric LIDAR]. Applying this technology, is useful to assist the nearest institution in handling the flood. Furthermore, it can be used in planning the space formation system and natural disasters mitigation.

27 June 2011

Fuzzy Hidden Markov Models

IFSA 2011

Fuzzy Hidden Markov Models
For Indonesian Speech Classification

*Intan Nurma Yulita
Telkom Institute of Technology
intanurma@gmail.com
The Houw Liong
Telkom Institute of Technology
houwthee@yahoo.co.id
Adiwijaya
Telkom Institute of Technology
adw@ittelkom.ac.id



Abstract: Indonesia has a lot of tribes, so that there are a lot of dialects. Speech classification is difficult if the database uses speech signals from various people who have different characteristics because of gender and dialect. The different characteristics make the system be trained for the various templates reference of speech signal. Therefore, this study has been developed for Indonesian speech classification This study designs the solution of the different characteristics for Indonesian speech classification. The solution combines Fuzzy on Hidden Markov Models. The new design of fuzzy Hidden Markov Models will be proposed in this study. The models will consist of Fuzzy C-Means Clustering which will be designed to substitute the vector quantization process and a new forward and backward method to handle the membership degree of data. The result shows FHMM is better than HMM and the improvement was 3.33 %.

Keywords: Fuzzy, Hidden Markov Models, Indonesian, Speech, Classification

Time-Series Data Mining in a Geospatial Decision Support

Time-Series Data Mining in a Geospatial Decision Support
System¤
Dan Li, Sherri Harms, Steve Goddard, William Waltman, Jitender Deogun
Department of Computer Science and Engineering
University of Nebraska-Lincoln, Lincoln NE 68588-0115

Abstract
This paper presents an overview of the motivation for, and the use of time-series data mining in, a Geospatial Decision Support System (GDSS). Our approach is based on a combination of time-series data mining algorithms and spatial interpolation techniques. The initial focus of the system is to facilitate drought risk management. We develop two association rule mining algorithms and two interpolation methods, which help drought experts predict local weather conditions or potential yield impact based on the global weather patterns.

Keywords: Geospatial Decision Support System, Data Mining, Interpolation.

1. Introduction
Drought is a natural process of Great Plains landscapes and results in significant economic, social, and environmental impacts. Historically, more emphasis has been placed on the response component of drought management, with little or no attention to mitigation, preparedness, and prediction or monitoring (Wilhite 2001). Thus, through the National Science Foundation (NSF) Digital Government program, the USDA RMA is working with the University of Nebraska–Lincoln Computer
Science and Engineering (CSE) Department, National Drought Mitigation Center (NDMC), and High Plains Regional Climate Center (HPRCC) to develop a Geospatial Decision Support System (GDSS) to improve the quality and accessibility of temperature and precipitation data for drought assessment and drought risk management. Figure 1 shows two drought assessment maps. The drought map of Nebraska can be generated in real-time produced by our GDSS system for any specified time interval from the project’s home page: http://nadss.unl.edu/.
A common question in risk analysis is “How are events related in time?” In a risk management application where a time-series is a factor, it is important to study the relationships of the parameters that occur together. Data mining algorithms have the potential to identify these relationships.
Predicting events and identifying sequential rules that are inherent in the data help domain experts learn from past data and make informed decisions for the future. For example, decision-makers are interested in discovering associations between the periodical occurrence of El Ni˜no and the periodical occurrence of natural hazards. Data mining techniques can help us build abstract models to represent the reality and to support risk management and mitigation of natural hazards. In the rest
of this paper, we demonstrate the integration of spatio-temporal knowledge discovery techniques in the GDSS using a combination of data mining methods applied to geospatial time-series data.

¤This research was supported in part by NSF Digital Government Grant No. EIA-0091530 and NSF EPSCOR,
Grant No. EPS-0091900.

23 June 2011

Peran Sains dan Teknologi Khususnya Telematika dalam Pengembangan Berkelanjutan

Peran Sains dan Teknologi Khususnya Telematika dalam Pengembangan Berkelanjutan
Prof. Dr. The Houw Liong

Pengembangan Sains dan Teknologi
Matematika mempunyai landasan yang sangat kokoh karena selalu dibangun dari aksioma kemudian dalil dan segala pernyataan matematik harus dapat dibuktikan secara logis dari aksioma. Kebenaran aritmatika dan logika formal tidak pernah diragukan, bahkan sekarang menjadi landasan kerja komputer yang dikenal sebagai Arithmetic Logical Unit.
Pengetahuan alam yang benar dibangun berdasarkan metoda ilmiah yang dikenal sebagai logico-empiricism. Sejak abad pertengahan metoda ilmiah berkembang dengan hukum-hukum alam yang berhasil dirumuskan oleh para fisikawan seperti hukum gerak benda, hukum gravitasi oleh Newton; gejala listrik dan magnet yang merupakan dasar untuk berkembangnya teknologi telekomunikasi oleh Maxwell; hukum termodinamika, dan lain-lain. Hukum-hukum alam tersebut dikenal sebagai hukum fisika klasik yang menjadi landasan tercetusnya teknologi yang dikenal sebagai Revolusi Industri I: mesin menggantikan otot.
Revolusi industri I ini membawa perubahan pola hidup yang sangat besar bagi umat manusia: tumbuhnya kota besar yang merupakan pusat industri dan perdagangan, urbanisasi, tumbuhnya teknologi yang memboroskan pemakaian sumber alam, timbulnya pencemaran/polusi dan terjadinya kelompok yang mempunyai modal besar dan menguasai teknologi yang dapat mengumpulkan kekayaan yang besar dan kelompok buruh dan petani yang umumnya tetap miskin.
Perkembangan fisika modern yang dipelopori oleh Einstein dengan teori relativitasnya dan Planck, Bohr, Schroedinger, Heisenberg, ... dengan mekanika kuantumnya menjadi landasan untuk berkembangnya teknologi nuklir, semikonduktor, integrated circuit, mikroelektronik, laser, komputer,robotika, dll., sehingga tercetusnya Revolusi Industri II: komputer menggantikan otak .
Bidang yang maju pesat merupakan penggabungan kemampuan komputer dan telekomunikasi yang dikenal sebagai telematika. Tumbuhnya perusahaan raksasa dalam bidang telematika atau yang memanfaatkan telematika menimbulkan perusahaan yang kekayaan dan kekuasaanya sangat besar.
Namun, industrialisasi yang disertai pertumbuhan penduduk yang pesat mengakibatkan menipisnya sumber alam, terdesaknya daerah pertanian, timbulnya pencemaran serta memperlebar jurang kelompok si kaya dan si miskin. Pertumbuhan semacam ini menuju ke pertumbuhan yang menuju ke keadaan krisis (unsustainable development).

Telematika
Telematika masa depan menawarkan berbagai kemungkinan baru dalam cara kerja manusia misalnya pengaruh berkembangnya telemetri, teleprinter, teleprocessing, teletext, telemedicine, telecommerce, laboratory automation, flexible manufacturing, distance learning, dan lain-lain. Memungkinkan pembangunan masyarakat tanpa uang kertas (cashless society), kantor tanpa kertas, sehingga menghemat sumber alam. Selain itu orang dapat bekerja di rumah atau tempat yang terdistribusi tidak perlu dipusatkan di suatu tempat yang diharapkan mencegah orang berbondong-bondong ke pusat kota, sehingga dapat menghemat bahan bakar untuk transport.
Telematika merupakan sarana yang penting dalam menyatukan pemikir-pemikir umat manusia yang mengutamakan kepentingan bersama dalam pengembangan yang berkelanjutan.

Pengembangan Berkelanjutan
Selain memperkaya pengetahuan manusia mengenai alam semesta dan dirinya sendiri dan masyarakatnya, perkembangan pengetahuan ini juga menimbulkan teknologi yang baru seperti bioteknologi, nanoteknologi, komputer kuantum, neural chip, robot yang mirip manusia, dan lain-lain.
Apakah pengetahuan manusia mengenai sistem kompleks, kecerdasannya, kearifannya, kesadaran manusia terdapatnya nilai luhur yang bersumber pada agama dan tradisi akan mengangkat harkat dan martabat umat manusia dapat mengalahkan persoalan pertambahan entropi yang terlalu cepat yang dihadapi manusia sekarang yaitu persoalan meningkatnya kebutuhan karena meningkatnya populasi manusia secara eksponensial yang disertai dengan kerusakan lingkungan hidup, meningkatnya pencemaran, menipisnya sumber alam bertambah lebarnya jurang kaya – miskin?
Selain itu hal yang perlu diselesaikan ialah konflik antar kelompok, antar bangsa, antar ideologi, antar agama?
Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan manusia yang dapat melepaskan diri dari kepentingan diri sendiri atau kepentingan kelompok yang berjangka pendek, diperlukan manusia yang dapat berpikir ke masa depan yang dapat memanfaatkan teknologi yang menghemat sumber alam, menjaga kelestarian lingkungan hidup, mengurangi pencemaran, gaya hidup yang memiliki toleransi terhadap kebinekaan dan memanfaatkannya untuk kepentingan bersama demi kelangsungan pengembangan umat manusia.

13 June 2011

Coronal Hole and Geomagnetic Disturbance

Seminar Nasional Sains Antariksa V ISBN: 978-979-1458-43-6
Serpong, 15 November 2010
Geomagnet dan Teknologi Landas Bumi

KAITAN GANGGUAN GEOMAGNET DENGAN
LUBANG KORONA
Mamat Ruhimat dan Clara Y. Yatini
Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa LAPAN
e-mail: ruhimat@bdg.lapan.go.id

Abstract
We analyzed two geomagnetic disturbances which are derived from the measurement of
daily variation of geomagnetic field conducted in BMKG Tondano Manado observatory (1.30°North, 124.93° East), particularly in Horizontal (north-south) component. The first occurred subsequently on August 24 and 25, 2010, while the second occurred on September 24, 2010.
The decreases of the intensity of Horizontal component reached minimum in August 25 and September 24, 2010 with intensities -55 nT and -40 nT respectively. By analyzing the solar and interplanetary activity a few days before the appearance of the geomagnetic disturbances, we found that those disturbances are related with the existence of geoeffective coronal holes.

Keywords: Coronal hole and geomagnetic disturbance

Salah Urus Sumber Daya Alam

Salah Urus Sumber Daya Alam

Analisis Ekonomi: Salah Urus Sumber Daya Alam

06 June 2011

Research of supercritical water may bring geotherm...

Supercritical Water May Bring Geothermal Revolution

Geothermania: Research of supercritical water may bring geotherm...: "In recent years, a large effort has been done to utilize a heat from the earth. Geothermal companies all over the world try to make another ..."

20 May 2011

Badai Matahari 2012 atau 2013 ?

Apa yang akan terjadi pada puncak aktivitas matahari 2012 atau 2013 ?
Semburan partikel bermuatan (CME) yang kuat dan mengarah ke Bumi mungkin (possible), namun probabilitasnya kecil sekali. Jika terjadi untuk daerah khatulistiwa arus induksi yang ditimbulkan oleh peristiwa tsb kecil, sehingga kemungkinan transformator PLN sampai terbakar sangat kecil. Kejadian terbakarnya transformator yang dipakai untuk mengubah tegangan listrik yang tinggi menjadi tegangan listrik rendah yang dipakai untuk industri dan penerangan perumahan baru terjadi di lintang yang jauh dari khatulistiwa seperti di Kanada. Namun bahaya gangguan / kerusakan komponen elektronik dari satelit komunikasi dan navigasi bisa terjadi sehingga bisa melumpuhkan sistem komunikasi dan navigasi yang bergantung pada satelit tsb.

http://tempointeraktif.com/hg/sains/2011/05/19/brk,20110519-335500,id.html

27 April 2011

Fuzzy Hidden Markov Models for Indoensian Speech Classification

INTAN NURMA YULITA

IN PARTIAL FULFILLMENT OF THE REQUIREMENTS FOR THE DEGREE OF
MASTER OF INFORMATICS
IN
THE INFORMATICS STUDY PROGRAM, IT Telkom

FEBRUARY 2011

ABSTRACT
Fuzzy Hidden Markov Models for Indoensian Speech Classification
Intan Nurma Yulita
Supervisor : Prof. Dr. The Houw Liong
Co-Supervisor : Adiwijaya, S.Si., M.Si

Indonesia has a lot of tribe, so that there are a lot of dialects. Speech classification is difficult if the database uses speech signals from various people who have different characteristics because of gender and dialect. The different characteristics will influence requency, intonation, and period of the speech. make the system be trained for the various templates reference of speech signal. Therefore, this study has been developed for Indonesian speech classification This study designs the solution of the different characteristics for Indonesian speech classification. The solution combines Fuzzy on Hidden Markov Models. The new design of fuzzy Hidden Markov Models will be proposed in this study. The models will consist of Fuzzy C-Means Clustering which will be designed to substitute the vector quantization process and a new forward and backward method to handle the membership degree of data.The result shows FHMM is better than HMM and the improvement was 3.3%.

Keywords: Fuzzy, Hidden Markov Models, Indonesian, Speech, Classification

01 April 2011

Pengembangan Berkelanjutan untuk Mengatasi Krisis

Pengembangan Berkelanjutan untuk Mengatasi Integritas Moral dan Spiritual, Krisis Pangan, Air, dan Energi.

The Houw Liong



Kitab Kejadian 1: 27--29

27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

29 Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.


Kitab Kejadian menyatakan bahwa manusia diberi kuasa untuk bertumbuh dan memanfaatkan alam secara bertanggung jawab, sehingga bisa bertumbuh secara berkelanjutan.

Namun keadaan sekarang manusia sudah menyalah-gunakan pengetahuan dan kuasa yang telah diberikan oleh Tuhan.

Pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat yang sekarang jumlahnya sudah mencapai 6,5 milyar, diperkirakan dalam tahun 2050 jumlah penduduk mencapai 9 milyar orang, dipacunya industrialisasi dan transportasi yang sekarang telah menghabiskan sekitar 80 juta barrel BBM setiap hari mengakibatkan menipisnya sumber alam, terdesaknya daerah pertanian, timbulnya pencemaran. Keserakahan manusia telah menimbulkan jurang kelompok kaya dan miskin yang makin lebar.

Model matematik yang dikenal sebagai dinamika sistem (Jay Forrester) menyatakan bahwa pertumbuhan semacam ini menuju ke pertumbuhan yang menuju ke keadaan krisis (unsustainable development).

Apakah pengetahuan manusia mengenai sistem kompleks, ekologi, kecerdasannya, kearifannya, kesadaran manusia terdapatnya nilai luhur yang bersumber pada agama dan tradisi akan mengangkat harkat dan martabat umat manusia dapat mengalahkan persoalan pertambahan entropi yang terlalu cepat yang dihadapi manusia sekarang yaitu persoalan meningkatnya kebutuhan karena meningkatnya populasi manusia secara eksponensial yang disertai dengan kerusakan lingkungan hidup, meningkatnya pencemaran, menipisnya sumber alam bertambah lebarnya jurang kaya dan miskin tsb?

Manusia yang serakah uang dan kekuasaan menimbulkan kolusi antara pengusaha dan pejabat yang memegang kekuasaan yang hanya mementingkan kelompoknya dan kerabatnya saja dan mengorbankan kepentingan orang banyak. Keadaan seperti itu dan menipisnya sumber alam, energi dan air bisa memicu konflik antar kelompok , antar bangsa, antar ideologi, antar agama.

Untuk mengatasi hal tsb diperlukan manusia yang mempunyai integritas moral dan spritual, sehingga dapat melepaskan diri dari kepentingan diri sendiri atau kepentingan kelompok yang berjangka pendek, diperlukan manusia yang dapat berpikir ke masa depan yang dapat memanfaatkan teknologi yang menghemat energi dan sumber alam, menjaga kelestarian lingkungan hidup, mengurangi pencemaran, gaya hidup yang memiliki toleransi terhadap kebinekaan dan memanfaatkanya untuk kepentingan bersama demi kelangsungan pengembangan umat manusia.



Daftar Pustaka

S.Weinberg, Dreams of a Final Theory, Vintage Books, 1994.

F.Capra, The Hidden Connection, Jalasutra, 2004.

D.B.Calne,Batas Nalar, Rasionalitas dan Prilaku Manusia, KP Gramedia, 2005.

22 March 2011

Japan's Chernobyl? Radiation pressure fears at Fukushima plant

Japan's Chernobyl ?

iframe width 425 height 344 src http://www.youtube.com/embed/pHHQXW7VSMw?fs 1 frameborder 0 allowfullscreen> /iframe>

13 March 2011

Indonesia Siap Membangun PLTN ?

Indonesia Siap Membangun PLTN ?
Jepang saja masih kerepotan ketika reaktor nuklir Fukushima terkena gempa/tsunami.

http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/03/12/brk,20110312-319539,id.html

11 March 2011

Spectacular M-Class solar flare March 8th, 2011

M-Class Solar Flare

iframe width 425 height 344 src http://www.youtube.com/embed/RnJBTmaRURU?fs 1 frameborder 0 allowfullscreen> /iframe>

10 March 2011

The Most IMPORTANT Video You ll Ever See part 6 of 8

Peak oil

iframe width 425 height 344 src http://www.youtube.com/embed/-3y7UlHdhAU?fs 1 frameborder 0 allowfullscreen> /iframe>

Global Warming Panic explained

Global Warming ?

iframe width 480 height 295 src http://www.youtube.com/embed/cdxaxJNs15s?fs 1 frameborder 0 allowfullscreen> /iframe>

16 February 2011

Strategi Menghadapi Krisis Energi Nasional

Apakah Strategi ini memadai mengingat kebutuhan energi naik sebanding dengan pertambahan penduduk ? Ini berarti kebutuhan energi naik lebih cepat daripada perkiraan dalam artikel di bawah ini. Demikian juga persediaan BBM, gas dan batu bara akan habis lebih cepat dari perkiraan dalam artikel di bawah ini.


Strategi Menghadapi Krisis Energi Nasional

Dunia Hadapi Lima Krisis

Bagaimana menghadapi krisis pangan, kependudukan, energi, lingkungan dan moral ?


Amien Rais: Dunia Hadapi Lima Krisis

14 February 2011

Energi Alternatif

Energi alternatif yang bisa mengantikan BBM ?
Sampai sekarang pengembangan biofuel masih sangat lambat.
Biofuel hanya bisa memenuhi sekitar 1% dari kebutuhan energi dunia.

http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2011/02/14/brk,20110214-313313,id.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

26 January 2011

Exponential Growth

Exponential Growth





Comments :

Population exponential growth should be consider carefully to anticipate what will happen in the future of mankind.

The Circle For Humanity

The Issue of Over-Population has become Critical.

Welcome to the Circle For Humanity: "The Issue of Over-Population has become Critical."

21 January 2011

Penemuan Pengetahuan Memakai Model Neuro-Fuzzy

Seminar Nasional, Lapan, 2010

Penemuan Pengetahuan Memakai Model Neuro-Fuzzy
Studi Kasus : Cuaca/Iklim dan Cuaca/Iklim Antariksa Ekstrim

The Houw Liong
KK Fisika Sistem Kompleks, FMIPA, ITB
Pasca Sarjana Informatika, IT Telkom

Abstrak

Hakekat sains ialah menemukan pengetahuan yang terandalkan (model konseptual,model empiris, model fisis, kaidah,hukum sebab akibat,teori) dari data pengamatan dan mengujinya dengan melihat kecocokannya antara prediksi pengetahuan tsb dengan data pengamatan . Metoda ini sekarang dikenal sebagai Data Mining atau Knowledge Discovery from Data (KDD) yang didukung oleh metoda statistik (clustering, regresi, korelasi, PCA, dll) dan metoda inteligensi artificial (ANN, fuzzy logic ,neuro-fuzzy, SVM, dll.) .
Studi kasus diambil dari cuaca/iklim dan cuaca antariksa untuk melakukan prediksi jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek, khususnya untuk mengantisipasi curah hujan ekstrim yang mengakibatkan banjir besar di Indonesia dan super storm (CME) dari aktifitas matahari yang dapat mengakibatkan kelumpuhan telekomunikasi dan navigasi di Indonesia yang diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun 2012 atau awal tahun 2013.


Pendahuluan
Bencana alam, seperti banjir akan dirasakan parah ketika cuaca/iklim pada keadaan ekstrim (curah hujan lebat lebih lama , lebih meluas dan lebih sering dari normalnya) atau sebaliknya pada bencana kekeringan ( kemarau panjang, curah hujan jauh lebih sedikit dari normalnya). Prediksi jangka panjang untuk keadaan ini sulit dilakukan dengan model cuaca/iklim yang berdasarkan hukum fisika yang fundamental yang berlaku untuk sistem atmosfer-laut yaitu hukum kekekalan untuk fluida, hukum termodinamika, pemodelan pembentukan awan, pengaruh aktivitas matahari, fluks sinar kosmik, letusan gunung, dan biosfer) serta syarat batas dan kondisi awal yang kompleks. Di Indonesia model GCM yang dikembangkan di Lapan Bandung belum bisa melakukan prediksi jangka panjang untuk mengantisipasi bencana banjir yang ekstrim atau kekeringan yang ekstrim. Demikian juga BMKG belum melakukan prediksi jangka panjang cuaca/iklim ekstrim.

Cara lain dilakukan dengan memakai metoda yang dikembangkan dalam Data Mining yaitu dengan menggunakan metoda statistik dan metoda inteligensi artifisial (Artificial Neural Network dan Fuzzy Logic) yang dikembangkan oleh Tim ITB dan UPT Hujan Buatan dalam tahun 2005 sampai 2009. Berdasarkan analisis deret waktu aktivitas matahari, fluks sinar kosmik, indeks ENSO, dan IOD yang hasilnya dapat dibaca pada Referensi.
Dari historis bencana alam di berbagai tempat di Indonesia dapat disimpulkan bahwa pengaruh cuaca ekstrim yang penting ialah bencana banjir yang pada umumnya terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari, meskipun secara normal musim hujan telah mulai sekitar dasarian ke 1 bulan November. Pada bulan-bulan tersebut pita zona konvergensi intertropis (ITCZ : Intertropical Convergence Zone) dan gerak relatif matahari berada di atas belahan bumi selatan. Pada belahan bumi musim panas juga sering muncul depresi, badai atau siklon tropis. Pita ITCZ dan badai tropis menyebabkan konvergensi gerak massa udara tropis lembab yang akan bergerak atas, sehingga uap air yang terbawa akan berubah fasa cair (tetes awan) melalui proses kondensasi.
Sebaliknya pada bulan Juli, Agustus, September, Oktober sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau. Pada saat kemarau panjang banyak daerah mengalami kekeringan atau kekurangan air.
Dalam penelitian ini diperlihatkan mekanisme matahari mempengaruhi cuaca berdasarkan letak relatifnya dan cuacas/iklim ekstrim melalui aktivitasnya.
Sistem peringatan dini cuaca/iklim ekstrim jangka panjang dapat dibangun berdasarkan siklus aktivitas matahari yang diwakili oleh deret waktu bintik matahari (sunspot). Deret waktu bilangan bintik matahari ini dapat diprediksi dengan menggunakan ANFIS (Adaptive Neuro Fuzzy Inference System).
Untuk wilayah Indonesia selain gejala musiman yang ditimbulkan oleh letak relatif matahari, ada gejala global dan regional yang berpengaruh pada timbulnya cuaca/iklim ekstrim yang bersumber pada aktivitas matahari yaitu ENSO (El NiƱo /Southern Oscillation), IOD (Indian Ocean Dipole) dan Madden-Julian Oscillation (MJO) .
Selanjutnya diteliti lebih mendalam dinamika interaksi matahari bumi, dinamika atmosfer, dinamika lautan dan analisis deret waktu untuk memprediksi cuaca/iklim ekstrim di wilayah Indonesia serta dinamika modifikasi cuaca/iklim dan siklus air yang diperlukan untuk mengembangkan cara-cara untuk mengurangi dampak negatif dari cuaca/iklim ekstrim yaitu banjir dan kekeringan yang diprakirakan akan terjadi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan ekstrim wilayah Indonesia tengah berkorelasi erat dengan bilangan bintik matahari. ENSO terutama mempengaruhi curah hujan ekstrim wilayah Indonesia timur dan IOD terutama mempengaruhi curah hujan ekstrim wilayah Indonesia barat.

Pendekatan Masalah Prediksi Cuaca/Iklim Ekstrim

Kaitan siklus curah hujan tahunan wilayah Indonesia oleh siklus sunspot, ENSO/SOI, dan IOD diselidiki pengaruhnya dengan memakai Fuzzy c-means clustering (Siregar, 2006).
Adaptive Neuro Fuzzy Inference System (ANFIS) dapat dijadikan sebagai pendekatan untuk melakukan prediksi deret waktu jangka panjang dan menegah. Analisa luaran ANFIS deret waktu bilangan sunspot dapat memprediksi cuaca ekstrim di wilayah Indonesia. (The, 2006b)
Sumber data sunspot (harian,bulanan) yang bersumber dari Royal Observatory of Belgium dan Sunspot Index Data Center :
http://www.astro.oma.be/SIDC pada tahun 1749-2003.
Sumber data curah hujan dari NCEP Reanalysis
http://www.cdc.noaa.gov/cdc/data.ncep.reanalysis kurun waktu tahun 1948-2003
Data ENSO/SOI, IOD,Nina3.4 dari NOAA

Pengaruh Aktivitas Matahari pada Cuaca dan Iklim Ekstrim di Indonesia

Hasil pengolahan data menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara curah hujan wilayah Indonesia tengah yang diwakili oleh curah hujan wilayah Pontianak dengan bilangan sunspot ( The, 2006a.). Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut ini.
Interaksi sinar kosmik dengan atmosfer atas menghasilkan partikel sekunder yang antara lain terdiri dari neutron dan moun. Secara umum partikel bermuatan tidak mampu menembus jauh lapisan atmosfer, kecuali neutron dan muon dan sinar gama dapat menembus hingga ke ketingian di bawah 6 km. Bila neutron dan muon berinteraksi dengan molekul air atau molekul udara, molekul menjadi bermuatan sehingga dapat menjadi inti kondensasi dalam proses pembentukan awan (Carlslaw,2002). Sinar kosmik menjadi sumber ion di udara di samping radiasi yang datang dari bumi oleh radio isotop radon.
Ketika aktivitas matahari rendah atau sunspot minimum SMin, intensitas sinar kosmik yang sampai ke permukaan bumi menjadi maksimum sehingga tutupan awan tumbuh maksimum. Ini berarti bahwa iradiansi matahari yang mencapai bumi akan menjadi minimum.
Sebaliknya bila aktivitas matahari maksimum partikel bermuatan yang dipancarkan matahari mempengaruhi medan magnetik antara bumi matahari yang akan membelokkan sebagian sinar kosmik menjauhi bumi sehingga intensitas sinar kosmik yang sampai ke bumi menjadi minimum, tutupan awan akan minimum. Selain itu karena flare bertambah, maka iradiansi matahari khususnya daerah ultraviolet yang diterima di bumi bertambah.
Tutupan awan global menghasilkan pemanasan global (efek rumah kaca/ greenhouse effect) sejumlah kira-kira 13%, tapi juga menyebabkan pendinginan sebesar 20% terhadap refleksi melawan radiasi matahari langsung. Hal inilah yang menyebabkan curah hujan wilayah Pontianak minimum, ketika aktivitas matahari minimum dan curah hujannya maksimum ketika aktivitas matahari maksimum, karena untuk wilayah ini pengaruh dinamika atmosfer dan laut dari Pasifik maupun dari laut India kecil (The,2006a). Untuk wilayah Indonesia barat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dan laut India (IOD) dan untuk wilayah Indonesia timur sangat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dan laut Pasifik (ENSO). Diperkirakan bahwa setelah puncak matahari 2013, wilayah Indonesia tengah akan mengalami curah hujan ekstrim demikian juga wilayah Indonesia timur bersamaan dengan La Nina dan wilayah barat bersamaan dengan IOD negatif.
Pengaruh Flare dan CME yang Kuat
Pada puncak aktivitas matahari Smax(sunspot maximum) kemungkinannya lebih besar untuk terjadinya flare dan CME (coronal mass ejection) yang kuat. Jika semburan plasma ini mengarah ke Bumi maka berkas partikel bermuatannya bisa merusak sistem instrumentasi yang ada pada satelit komunikasi dan navigasi (GPS) dan untuk daerah jauh dari khatulistiwa , arus induksi yang ditimbulkannya dapat merusak jaringan listrik/ transformator tegangan tinggi seperti yang terjadi di Kanada pada tahun 1959 yang disebut effek Carrington.
Kehidupan modern sangat bergantung pada sistem navigasi dan komunikasi yang menggunakan satelit, sehingga jika semburan plasma yang kuat mengarah ke Bumi maka bencana yang ditimbulkan akan sangat besar.
Hal tsb. dikemukakan oleh Dr. Richard Fisher dari Nasa :
“We know it is coming but we don’t know how bad it is going to be,” Dr Richard Fisher, the director of Nasa's Heliophysics division, said in an interview with The Daily Telegraph.
“It will disrupt communication devices such as satellites and car navigations, air travel, the banking system, our computers, everything that is electronic. It will cause major problems for the world.
“Large areas will be without electricity power and to repair that damage will be hard as that takes time.”
Dr Fisher added: “Systems will just not work. The flares change the magnetic field on the earth that is rapid and like a lightning bolt. That is the solar affect.”
Every 22 years the Sun’s magnetic energy cycle peaks while the number of sun spots – or flares – hits a maximum level every 11 years.
Menurut Dr.Bamford dari Nasa :
So – it’s a real thing, and we should be concerned. But preventive measures can be taken – satellites can be sent offline during big flares, power grids and communication networks can be shielded against electromagnetic radiation and so on. As Dr Bamford says: “The extreme events like the 1859 Carrington Event are 1-in-100-year probabilities, about the same probability as a storm of the level of Katrina hitting New Orleans – and New Orleans did not build their defences to withstand the extreme-but-unlikely magnitude. 100 years isn’t that long.
“But the end of the world it is not. Maybe as disruptive as an ash cloud, but not as protracted I’m sure.” She gives examples of precautions, like a GPS backup system and active mini-magnetosphere shielding for astronauts and satellites that her team have designed.
Of course, if those precautions are taken, and actually work, and no damage is done, then everyone will cry that it was all a big fuss over nothing, like they always do. So the scientists can’t win, really. But that’s just how it is.

Posibilitas terjadinya CME yang kuat dan mengarah ke Bumi ada pada puncak aktivitas matahari 2013, namun untuk memprediksi probabilitasnya masih diperlukan pengembangan model magnetohidrodinamika dalam matahari serta magnetosfer yang sampai sekarang belum bisa memprediksi cuaca/iklim ekstrim antariksa .
Cara lain ialah mengembangkan pengamatan dan metoda data mining untuk mengidentifikasi pola yang terjadi pada matahari sehingga dapat menentukan besar CME serta arahnya. Demikian juga pola medan interplaneter , khususnya dalam wilayah Matahari-Bumi. Untuk prediksi jangka menengah diperlukan prediksi puncak aktivitas matahari yang lebih akurat serta terjadinya CME kuat yang mengarah ke Bumi.
Lapan, Bandung sedang mengembangkan prediksi jangka pendek yang diharapkan bisa memprediksi beberapa hari sebelum efek CME sampai ke Bumi.



Referensi :

1.The H.L., P.M. Siregar, Prediction of Extreme Weather and Climate in Indonesian Maritime Continent Based on Sunspot Numbers, International Roundtable on Understanding and Prediction of Summer and Winter Monsoons, BMG, NAMS&T, NCMRF, Jakarta, 2005.
2. The H.L., P.M. Siregar, Sistem Peringatan Dini di Indonesia Berdasarkan Aktivitas Matahari, Seminar Antariksa Nasional III, 2006a.
3.P. M. Siregar, The H. L. , Fuzzy Clustering and Extreme Weather/ Climate in Indonesia, International Workshop on Regional Models for Prediction of Tropical Weather and Climate, KAGI 21-ITB, Bandung, 2006a
4.The H. L., P. M. Siregar,Using System Dynamics of Ciliwung River to Predict Floods, Workshop on Nonlinearity 2k6, IPB, Bogor, 2006b
3.P.M Siregar, The H. L. , Mechanism of Extreme Climate in Pontianak and Jayapura Regions, Workshop on Nonlinearity 2k6, IPB, Bogor, 2006b.
4.The H. L., R. Gernowo, P.M. Siregar, H. Widodo, Sistem Peringatan Dini Banjir Sungai Ciliwung, , Geo-Hazard dan Sumber Daya Bumi di Tanah Air, HAGI, Bandung, 2006c.
5. Bayong Tjasyono HK, et al, Impact of El Nino on Rice Planting In Indonesian Monsoonal Areas, International Workshop on Agrometeorology : Climate Forecast Application for Sustainable Agricultural Production and Risk Reduction Strategies, Jakarta, 2006.
6.R.Gernowo,T.W. Hadi, Nuryana,J.K., Analisis Kejadian Hujan Ekstrim Terhadap Banjir Daerah DKI Jakarta: Studi Kasus Januari 2002, Prosiding PIT HAGI, Semarang, 2006a.
7. R.Gernowo, Bayong Tj H.K., The H. L., T. W. Hadi, I. Junaeni, Case Analysis of Relationship between Rainfall Convection and Flood Phenomena on January 2002 in DKI-Jakarta Area, International Conference on Mathematics and Natural Sciences, ITB, 2006b.
8.Tri W. Hadi, N. J. Trilaksono & I D.G. Junnaedhi, A Numerical Study of The Jakarta Flood Event of January/February 2002 : Simulation of Convective Rainfall Using Regional Weather Model, Laporan Riset ITB, 2006
9. Duhau ,S., Long Term Variations in Solar Magnetic Field, Geomagnetic Field and Climate,Proc. 9th Asian-Pacific Regional Meeting, IAU, Bali, 2006.
10.Bayong TjHK, Peran Aerosol dan Larutan pada Pertumbuhan Tetes Awan, Seminar Hidrologi Banjir dan Kekeringan , MHI, BPPT, Jakarta 2005a.
11. Bayong TjHK, Meteorogical Drought in Indonesia, International Seminar on Indonesian Smoke Induced by Drought Episodes, BPPT, Jakarta, 2005b.
12. T. Landscheidt, New ENSO Forcast Based on Solar Model, Schroeter Institute for Research in Cycles of Solar Activity, 2003.
13.K.S. Carlslaw, R.G. Harrison, J. Kirkby, Cosmic Rays, Clouds, and Climate, Science’s Compass, Vol. 298, 2002.
14.Ratag,M.A.,Dampak Variabilitas Matahari terhadap Vegetasi:Cincin-cincin Kayu, Prosiding lokakarya program Iklim Nasional, 126-132, Lapan, Jakarta., 1999a.
15.Ratag,M.A.,Fraktal Variabilitas Matahari dan Kaitannya dengan Dinamika Variabilitas iklim, Prosiding lokakarya program Iklim Nasional,133-144, Lapan, Jakarta,1999b.
16.Ratag,M.A., Dinamika Sistem Matahari-Bumi dan Perubahan Iklim Global, Prosiding lokakarya program Iklim Nasional,150-160, Lapan,Jakarta.,1999c.

http://blogs.telegraph.co.uk/culture/tomchivers/100008500/nasas-2013-solar-flare-warning-how-much-do-we-need-to-worry/

19 January 2011

PLTN Dibangun di Pulau Bangka

PLTN Dibangun di Pulau Bangka

Apakah Indonesia mampu mengatasi krisis energi dengan membangun PLTN di pulau Bangka saja ?
Peningkatan kebutuhan energi sebanding dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia yaitu sekitar 2% setiap tahun. Dengan mengingat penurunan cadangan BBM Indonesia dan jumlah energi alternatif yang direncanakan pemerintah termasuk PLTN dan geotermal terlambat dan masih jauh dibawah angka peningkatan kebutuhan energi ini, Indonesia belum mampu mengatasi krisis energi 5 sampai 10 tahun mendatang.

Masalah Pertambahan Penduduk

http://www.tempointeraktif.com/hg/sains/2011/01/19/brk,20110119-307298,id.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Komentar :

Bagaimana Indonesia menghadapi masalah pertambahan penduduk , khususnya pulau Jawa yang penduduknya sudah melampaui daya dukungnya ?
Masalah besar yang harus dipecahkan untuk Indonesia ialah masalah distribusi penduduk, lebih dari 140 juta berada di pulau Jawa, sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas, polusi dan kerusakan lingkungan hidup. Cara yang bijak untuk mengatasinya ialah dengan memindahkan pusat kegiatan ke luar pulau Jawa sehingga secara alamiah orang akan pindah/transmigrasi ke luar Jawa.