Google+ Followers

15 February 2010

Astronomi dan Fisika , ITB 2005

Derap Langkah Maju Astronomi dan Fisika

 

Iratius Radiman dan  The Houw Liong

 

 

Ringkasan

Seperti apakah tradisi berfikir ITB yang dihasilkan dari usaha pembudayaan riset itu? Sebuah contoh mengenai upaya menuju sintesa atau  akulturisasi budaya keilmuan 'barat' yang diadopsi dengan pemahaman budaya tradisional yang bermacam-macam sedang terjadi di Astronomi dan Fisika  dimulai dari  eksistensi Observatorium Bosscha , Lab Bosscha dan 50 tahun Pendidikan Tinggi Astronomi dan Fisika di Indonesia. Pengembangan sains masa depan tetap memberi tempat untuk penelitian fundamental dan penelitian berorientasi misi untuk ikut memecahkan masalah nasional dengan memanfaatkan Benua Maritim Indonesia sebagai lab/sumber alam. Pendidikan sains/teknologi harus berdasarkan problem based learning, project based learning dan research based learning untuk mengantisipasi perubahan yang cepat dan masalah yang makin kompleks.

 

1.   Pendahuluan

 

 

Pada tahun 1960-an, ITB mengirim banyak sarjana belajar ke Amerika Serikat, bekerjasama dengan Universitas Kentucky, Lexington. Seusai studi, para lulusan banyak yang tidak terus ke pengembangan riset, karena desakan penyelenggaraan ITB yang ditinggal guru besar Belanda pada akhir tahun 1950-an dan Amerika pada tahun 1964.

 

2.              Kesulitan Membangun Budaya Riset di ITB tahun 60-an

 

Keharusan bermulti fungsi sebagai manajer akademik, pengajar, kurator dan administrator di tambah kondisi-kondisi negara yang baru merdeka pada periode itu menyebabkan semangat atau etos kerja menjadi 'leader' di bidang 'sains' tertentu belum menetap. Sesungguhnya yang diharapkan adalah sintesa atau akulturisasi dari budaya keilmuan 'barat' yang diadopsi dengan budaya tradisional menjadi sesuatu yang akan diwariskan di ITB.

Untuk selanjutnya penyebutan kata ilmu pengetahuan di dalam tulisan berikut adalah cara pikir rational yang dikenal sebagai 'sains'.

 

Semangat membawa dan mendorong rekan-rekan kerja yang se-angkatan atau yang lebih muda untuk meneruskan atau menggali, menciptakan budaya kerja yang men-'generate' ilmu pengetahuan baru melalui riset, belum tampak banyak. Pembentukan budaya tersebut masih berupa harapan-harapan atau cita-cita yang ternyata menuntut semangat, inspirasi dan budaya tulis yang tidak putus-putus yang perlu dituangkan dalam rupa dokumentasi-dokumentasi atau artefak-artefak rekaman (yang akan menjadi "track record" dari capaian-capaian yang diperoleh), baru sedikit terwujud.

 

Kebanyakan para senior mengonsentrasikan diri sebagai pengajar dan administrator. Mereka bergerak di tengah-tengah lingkungan yang sarat dengan ketiadaan infrastruktur institusi, bergerak di tengah suasana ekonomi, politik, sosial negara yang masih mencari bentuk-bentuk yang sesuai. Semua itu menambah kesulitan mengembangkan budaya berpikir agar terjadi lingkungan kondusif dan favorable bekerja dalam ilmu pengetahuan. Keharusan berfungsi sebagai pengajar adalah utama, karena pendidikan tinggi teknik, menuntut pelajaran dasar MIPA cukup banyak, tidak hanya di tahun pertama pendidikan, tetapi juga di tahun-tahun kedua dan ketiga.

 

Pada waktu itu belum diketahui benar bagaimana kebijakan menyampaikan ilmu pengetahuan dasar sebagai landasan (support) bagi pendidikan tinggi teknik. Pilihanya ialah mengemas ilmu dasar sesuai kebutuhan pendidikan teknik untuk masing-masing departemen atau penekanan pada metodologi ilmiah (logico-empiricism) dan membiarkan departemen-departemen teknik yang berkepentingan menemukan jalan sendiri. Sekarang yang diadopsi ternyata lebih banyak pertama dan sedikit yang kedua, sedangkan di negara yang sains dan teknologinya maju, jenis kedua yang diadopsi.

 

Pada awal-awal ITB, bagian sangat kecil dari staf pengajar menyempatkan diri melakukan riset terbatas sebagai panggilan idealisme atau hobi/motivasi internal. Namun, semua dilakukan tidak meng-institusi, karena pada waktu itu tidak tersedia grant riset yang bisa diusulkan. Salah satu dari yang sedikit di antara departemen-departemen ITB yang melakukan riset bahkan menjadi keharusan melakukannya adalah astronomi; itupun setelah ditunjang pembeayaan, salah satunya muncul dari ujud kedermawanan para pengusaha perkebunan Belanda (K.A.R. Bosscha dan Kerkhoven).

Dalam lingkungan FMIPA usaha untuk membentuk kelompok dimulai dengan study group sekitar tahun 1968 dilanjutkan dengan terbentuknya KBK (Kelompok Bidang Keahlian) sekitar tahun 1977.

 

3.              Proses Pembudayaan Riset di Astronomi dan Fisika

 

Astronomi harus melakukan riset karena desakan kebutuhan penyediaan data-data bintang di langit selatan sejak Observatorium Bosscha didirikan pada tahun 1923. Data-data itu sangat diperlukan mengingat pengembangan pengetahuan yang memerlukan susunan data-data standar sebagai basis-basis telaah astrofisika fundamental yang masih muda yang merupakan pengembangan lanjut astronomi dinamika; hasilnya pun di tunggu-tunggu oleh komunitas bidang ilmu pengetahuan tersebut.

 

Hal lain yang mendasari kebutuhan akan data adalah bahwa tidak banyak observatorium terdapat di belahan bumi selatan. Sementara pengetahuan dinamika galaksi, khususnya telaah struktur galaksi Bima Sakti yang melintang dari belahan utara bumi sampai ke selatan sedang derasnya. Kajiannya telah mencapai tahap sedemikian rupa sehingga orang ingin tahu bagaimanakah bangun/struktur besar dan pergerakan galaksi Bima Sakti secara keseluruhan. Periode itu adalah masa-masa yang sebaik-baiknya untuk ikut memajukan ilmu-ilmu dasar. Kini terapannya yang terus berlanjut itu telah sampai pada temuan-temuan yang sekarang dirasakan sebagai penambah basis dan penguat astronomi kontemporer.

Dari semangat dan etos kerja yang diturunkan/diperoleh dari Belanda di bidang astronomi, adalah sangat mungkin memperoleh pengalaman menuju sintesa hipotetis yang sedang 'current' di waktu itu, terlebih karena dunia astronomi telah memasuki jaman network dan globalisasi yang menyatukan berbagai arus fikiran mengenai kejadian evolusi bintang, galaksi dan alam semesta (kosmologi). Menyimak periode 1950-1990 an, tidak ada temuan-temuan yang tidak menjadi pendukung basis ilmu pengetahuan secara umum. Periode itu sebenarnya menyajikan Indonesia, di atas kertas, berada di posisi ilmu setingkat dengan negara lain, seperti Korea, Jepang, Taiwan, India dan lain-lain.

 

Sekarang, pengupayaan terbentuknya iklim semacam di astronomi terlihat pula tumbuh juga di departemen Fisika terutama melalui program doktor (S3) yang mengupayakan supaya sebagai syarat kelulusannya mahasiswa harus membuat makalah yang dapat diterima di beberapa jurnal internasional terkenal. Belasan doktor telah dihasilkan oleh kelompok Fisika Material (semi konduktor amorf, compound semiconductor, superkonduktor, optika-nonlinear/fotonik). Beberapa doktor dalam bidang fisika nuklir beberapa doktor dalam bidang fisika bumi dan beberapa dalam doktor dalam bidang fisika komputasi (hamburan neutron, model nuklir, metoda EM, seismologi , metoda neuro-fuzzy, cellular automata). Juga memanfaatkan dana riset dari pemerintah seperti Hibah Bersaing, RUT, RUTI, Central Grant, dll untuk membina budaya risetnya.

Kembali kepada periode 1960-an, kesempatan untuk terjadi kondisi awal semacam itu tidak akan berulang; dunia baru selesai berperang dan ilmu pengetahuan berada pada tahap peletakan dasar melompat ke pengembangan berikutnya. Kita menyaksikan pengembangan itu kini lebih terorganisisasi dan dipersiapkan memasuki abad 21. Misalnya kita melihat 'free course' yang dilakukan beberapa universitas Amerika seperti 'Stanford', 'MIT', 'Cornell' dan beberapa universitas di Eropa. 'Courses' semacam itu bisa berdampak positif negatif. Positif, bila dimanfaatkan akan mendukung terjadinya 'self-educating dan self-development society'. Negatif, karena merasa mempunyai substansi, seseorang yakin merasa mengetahui dan tidak pernah mau menelaah, melakukan observasi/ eksperimen sendiri,  lebih-lebih karena tidak mengakar pada bumi Indonesia.

 

4.              Pemanfaatan Keunggulan Kompetitif Indonesia oleh Belanda

 

Dalam hal astronomi, situasi yang memperlihatkan pemanfaatan keunggulan kompetitif Indonesia yang disediakan alam telah dilakukan Belanda; keberadaan Indonesia di khatulistiwa, memungkinkannya mengamati kedua belahan langit.

Banyak data-data bintang, singular, multiple dan variabel, massa dan luminositas yang dihasilkan dari Indonesia, bahkan beberapa asteroid pun ditemukan dengan nama-nama lokal yang menarik dari Jawa Barat (mis. Asteroid Cibatu dll). Keadaan itu telah dimanfaatkan sampai beberapa dasawarsa dari 1930 sampai tahun 1980-an.

 

Astronomi berpusat pada Observatorium Bosscha yang mempunyai peran dan memiliki fungsi daya yang sangat besar. Sebut saja dua hal dari sekumpulan hal-hal yang penting, ia bisa berperan sebagai laboratorium selain secara tradisi sebagai observatorium, yang disebut terakhir telah diembannya sampai sekarang. Kini sudah tampak peralihan tradisi ke pengembangan aspek laboratorium, dari lab komputasi numerik sampai processing gambar dan instrumentasi. 

 

Secara historis Observatorium Bosscha adalah salah satu tempat yang sangat dikenal di dunia terutama oleh astronom abad 20. Pada abad itu, paling tidak sekitar 300 observatorium yang masih 'exist' sejamannya setidaknya mengetahui dimana tempatnya secara geografis di bola dunia; apa-apa yang dilakukan yakni menyumbang dasar-dasar data dunia demi pemahaman astronomi dan astrofisika. Kita cukup datang kepada seorang 'librarian' di negara lain yang memiliki observatorium dan ia akan menunjuk dimana jurnal Observatorium Bosscha, kalau perpustakaan itu memilikinya. Publikasi-publikasi adalah hasil pertukaran informasi yang berkelanjutan sejak tahun 1928 sampai sekarang.

 

Belanda mendirikan stasion meteorologi untuk mendukung kepentingan perkebunannya. Data meteorologi pada jaman Belanda tsb lebih lengkap dan terpercaya daripada data meteorologi yang dikumpulkan oleh BMG sekarang. Meteorologi dan sains atmosfer dipandang sangat penting untuk menunjang perkebunan/pertanian di Indonesia . Suatu arah pemikiran yang seharusnya diteruskan oleh ITB.

 

Demikian juga berbagai lembaga penelitian sumber alam didirikan Belanda. Fisika bahan alam dan Kimia bahan alam seharusnya menjadi prioritas  R&D di ITB.

 

 

5.              Hasil Pembudayaan Riset 'Sains'  di ITB

 

Departemen Astronomi bersama Observatorium Bosscha sampai Oktober 2001 tercatat menghasilkan 350 tulisan yang termuat di hampir seluruh jurnal astronomi di dunia. Untuk menyebutnya beberapa:

astrophysical journal, astronomy and astrophysics, astronomical journal, compte rendu acad.sc.paris, nature, publication of astronomy of the south pacific, publication of astronomical society of japan, astronomische nachrichtung, journal of geophysics, vistas in astronomy, icarus, solar physics, earth and space science, space physics, majalah populer sky and telescope, dll.

 

Selain itu 230 'paper' nasional serta 35 buku. Jumlah  'count' popularisasi astronomi, masih diragukan ketepatan jumlahnya di suratkabar dan majalah jadi tidak diikutkan. Tetapi popularisasi astronomi dengan masyarakat masih harus ditingkatkan, walaupun kunjungan ke observatorium tercatat rata-rata 1000 orang per minggu dan pernah mencapai 10.000 orang dalam 48 jam sewaktu Mars mendekat.

 

Dari sudut kegiatan riset, 'fact-finding' berupa akuisisi data dan interpretasi merupakan bulk terbesar, tercatat sekali penemuan bintang katai putih di bintang Sirius. Bintang-bintang ganda visual dan eklips, bintang-bintang variabel dan gugus bola, struktur galaksi Bima Sakti di arah pusat galaksi, kutub galaksi dan 'warping' di tepi piringannya, nova-nova, berbagai-bagai bintang khusus lain dan fotometri planet-planet. Segmen riset yang berikutnya adalah konsolidasi, dimulai dari peletakan dasar-dasar implikasi pengamatan sampai hipotesa yang secara tradisi dimulai sejak pengukuhan guru besar astronomi pertama: Prof. van Albada. Kemudian, 'extension' aplikasi hukum astrofisika dan astronomi untuk telaah-telaah berturut-turut dari Prof. The Pik Sin antara lain untuk bintang-bintang muda dan tahap awal pembentukannya, Prof. Bambang Hidajat untuk struktur galaksi serta struktur warpingnya dan bintang-bintang panas Wolf-Rayet, dan Winardi Sutantyo untuk bintang ganda dekat dan sinar-x. Pada tahapan ini invention-invention  hipotesa dalam bidang masing-masing telah berjalan. Jorga Ibrahim memulai tempuhan sendiri yang unik, me-konstruksi teori geometri diferensial forms untuk berbagai struktur-struktur alam semesta. Ia sampai pada reformulasi mandiri dari fase-fase struktur dini alam semesta yang mengantar kepada keharusan existensi 'oeratoom', dan untuk 'keterheranannya' mendapatkan bahwa van Albada telah lebih dulu berada disana. Tentang hal tersebut dapat dibaca di dalam Buku Kenangan '50 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia 1951-2001'

 

Seperti telah disebutkan dalam pengembangan budaya riset, beberapa kelompok riset dalam bidang fisika : fisika material yang dipelopori oleh Prof. M. Barmawi dan Prof. Tjia May On, fisika nuklir yang dipelopori oleh Prof. Marsongkohadi, fisika bumi yang dipelopori oleh Prof. L. Hendrajaya, Prof. Srijatno dan Prof. The Houw Liong , fisika komputasi yang dipelopori oleh Prof. Benny Suprapto, Prof. Srijatno dan Prof. The Houw Liong, fisika teoritis yang dipelopori Prof. Silaban, fisika zat padat yang dipelopori oleh Prof. W. Loeksmanto dan Prof. Haryadi Supangkat telah berhasil merintis dasar tradisi riset di Fisika, ITB.

 

6.              Upaya Penerapan 'Sains' ke dalam 'Tradisi Berfikir Lokal' ?

 

Sebenarnya apresiasi atau pembukaan-pembukaan berfikir dalam 'sains' semacam di atas, belum banyak dibuka kepada publik. Kita berharap akan lebih banyak penulisan apresiasi semacam itu dilakukan di ITB. Derivatifnya akan mewariskan tradisi berfikir tertentu  dan 'original' yang akan menjadi kebanggaan tersendiri di ITB. Namun itupun tidak dapat dilakukan terburu-buru, karena harus mempunyai generasi penerus yang mampu memaparkannya, meresapi dan merenunginya secara 'mature' dan mandiri, Waktu sebagai parameter atas konstatasi itu yang akan memperlihatkan.

 

Pekerjaan-pekerjaan di bidang astronomi atau bidang sains dasar pada umumnya  sukar dilihat segera kemanfaatannya terhadap kemanusiaan, namun ada contoh konkrit berikut memperlihatkan peran yang penting:

1.    Ketika Tycho Brahe dan Kepler mengamati bintang-bintang dan planet-planet, ternyata hukum pergerakan mereka di langit tertulis di dalam Ketiga Hukum Mekanika Newton dan Hukum Gravitasi yang kini dipakai di semua wilayah sendi teknologi, terlebih di engineering.

2.    Ketika semua astronom melihat jauh-jauh ke langit sampai ke wilayah makro galaksi-galaksi untuk mencari kejadian awal alam semesta mereka dapatkan bahwa esensi kejadian awal alam semesta ternyata kembali pada esensi kejadian partikel-partikel elementer di bumi yang di selidiki secara seksama dan kuat oleh para fisikawan dalam laboratorium dan akselerator-akselerator.

3.    Maxwell berhasil menyatukan secara teoritis medan listrik dan medan magnetik, dan salah satu akibatnya ia dapat menuliskan persamaan gelombang elektromagnetik. Prediksi adanya gelombang elektromagnetik muncul, beberapa tahun sebelum terdeteksi secara eksperimen. Sekarang orang mengakui betapa penting peranan gelombang elektromagnetik dalam teknologi.

4.    Heisenberg dan Schroedinger mendapatkan persamaan gerak untuk elektron. Persamaan ini merupakan dasar dari teori pita yang melandasi teori semikonduktor dan mikro-elektronik yang memegang peran penting dalam teknologi.

 

Dampak apa yang akan dihasilkan kepada masyarakat sepertinya masih menjadi 'dispute' sekarang. Menyadari bahwa keberadaan jasad hidup belum definitif di Mars, kini seakan tampak tanda-tanda bahwa kalau kehidupan pernah ada di planet Mars, asal usul kehadirannya sangat mungkin datang dari Bumi yang melalui salah satu atau banyak pecahannya pernah jatuh di planet Mars. Pendapat berkebalikan juga sah. Jadi akan ada semacam dua kesadaran yang menentukan civilisasi dan budaya manusia di masa depan dan ini yang akan menentukan wajah teknologi dunia di masa depan.

 

Nanoteknologi/ nanoscience dicetuskan oleh Feynmann berdasarkan pemikiran bahwa limit dimensi terkecil penyimpanan informasi, pengolah informasi, komponen mesin, dll, ditentukan dalam skala atom (nanometer) saja dan secara prinsip fisika seharusnya dapat dilakukan. Pada awal ia menantang fisikawan supaya dapat menyimpan seluruh informasi yang tertulis dalam Encyclopedia Britannica dalam penyimpan seukuran dengan  kepala jarum pentul.

 

Cellular automata yang dicetuskan S. Wolfram merupakan suatu metoda pemersatu untuk berbagai bidang sains.

 

Sistem kompleks yang dicetuskan oleh kelompok Santa Fe ( Gellmann, dkk) merupakan merupakan lintas bidang sains , bahkan termasuk bidang ekonofisika dan sosiofisika

 

Namun di atas semua itu, kemanfaatan yang dirasakan oleh masyarakat selama existensi astronomi dan fisika di Indonesia dapat disebutkan  di antaranya:

1.    Arsitektur Dome dan Struktur Bangun Observatorium

2.    Keberadaan Planetarium dan Observatorium di Jakarta dari DKI Jakarta

3.    Keberadaan Stasiun Pengamatan Matahari antara lain di Watukosek dari LAPAN

4.    Pemikiran Pendahuluan tentang Kelayakan Satelit Geostasioner Pertama di Indonesia

5.    Telaah penanggalan Pranata Mangsa yang justifikasi dan basis pengamatannya dapat ditelusuri secara kuat dari studi orbit Bulan dan rotasi Bumi. Denikian juga penanggalan Bali tentang ramalan pasang surut memiliki dasar-dasar sains pasang utama dan nisbi astronomi. Yang belum dilakukan adalah bagaimana fenomena kesuburan kangkung dan bayam bisa tumbuh waktu dan mendekat bulan purnama. Ini menunggu rekan dari biologi mengamatinya.

6.    Penentuan Almanak atau Penanggalan Waktu di Departemen Agama pada program penentuan Hisab Rukyat. Sekarang, tabulasi yang secara tradisional dilakukan dapat menerima efek paralaks dan refraksi sinar sebagai koreksi yang perlu dilakukan.

7.    Pengembangan wilayah dan penataan lingkungan yang ada di wilayah Bandung Utara

8.    Pendidikan para pelayar atau mualim senior dalam navigasi di laut

9.    Ekspedisi Gerhana Matahari yang eventual diminta oleh PEMDA setempat di Dumai, Sangir Talaud, Cepu, Sumatra Selatan dan Bangka

10.          Pengembangan Basic Science di dunia internasional bagi pelajar SMP dan SMU melalui Olympiade Astronomi dan Olympiade Fisika. Indonesia telah menyelenggarakan Olympiade Fisika Asia di Lippo Karawaci tahun 2001 dan olympiade Fisika Internasional di Bali tahun 2002 dengan sebagian besar panitia penyelenggaranya , pembuat soalnya  dan jurinya dari Fisika, ITB dan beberapa dari Astronomi, ITB.

11.          Fisika, ITB berperan dalam peningkatan kemampuan guru SMU dengan mengadakan berbagai penataran untuk guru SMU.

12.          Fisika ITB berperan dalam peningkatan kemampuan dosen berbagai PT di Indonesia melalui program pascasarjananya.

13.          Banyak sarjana Fisika dan Astronomi yang berperan dalam berbagai lembaga riset.

14.          Banyak sarjana Fisika yang menunjukkan bahwa metodologi sains dapat diterapkan untuk memecahkan berbagai masalah dalam masyarakat, khususnya dalam industri dan perusahaan.

15.          Mengadakan IAU (International Astronomical Union) School for Young Astronomers tahun 1973 di Lembang

16.          Memasukan Indonesia resmi menjadi anggota IAU tahun 1979

17.          Beberapa kali Indonesia melakukan Pertemuan Asian Pacific Regional IAU Meeting, yang  akan datang dijadwalkan tahun 2005 di Bali.

18.          Persiapan Pendidikan Sains di Abad 21, Anjuran kuat dari IAU untuk Indonesia di Asean melangkah menjadikan Astronomi sebagai Elemen yang Substantif di dalam Kurikulum Nasional disamping Fisika dan Biologi di abad ruang angkasa.

19.          Penerapan Pengetahuan tentang Lingkungan Matahari dan Planet-Planet dan hasil-hasil eksplorasi Tatasurya untuk masalah Benua Maritim Indonesia.

20.          Kerma Fisika dan GM, ITB dengan BMG, LAPAN, dan BPPT untuk prediksi dan modifikasi cuaca ekstrim di Benua Maritim Indonesia dan prediksi banjir di DKI.

21.          Pembuatan berbagai alat praktikum fisika dasar yang tersebar ke berbagai PT di Indonesia.

 

 

 

7.   Harapan Peran Sains dalam Masa Depan  ITB

 

ITB adalah sebuah lembaga Pendidikan Tinggi, tempat berkumpul para cendekiawan dan akademikus.  Ketika lembaga itu dibangun yang difikirkan waktu itu adalah membangun institut teknik yang akan menghasilkan engineering skill dan prototip-prototip karya engineering di masyarakat. Kemungkinan tidak banyak  pemikiran untuk mengembangkan 'sains' sendiri menjadi budaya. Setelah 50 tahun, kini kita beralih dan mulai menyadari bahwa kita mampu menciptakan atau mengenerate 'sains' sendiri dari publikasi-publikasi yang dihasilkan, setidaknya di astronomi dan fisika. Kesadaran itu menimbulkan keyakinan bahwa manusia Indonesia sesungguhnya dapat menentukan pilihannya  sendiri bekerja di dalam budaya 'sains' sesuai bidang yang digeluti. Menyadari itu sudah saatnya di antara program-program ITB ada yang mengarahkan kepada penyiapan lingkungan pengembangan-kemampuan keberdayaan manusia, disamping program pemberdayaan-pemberdayaan institusi dan manusianya.

 

Metodologi sains (logico-empiricism) yang merupakan landasan teknologi modern hanya dapat dihayati jika mahasiswa ikut terlibat dalam proses logico-empiricism dalam pemecahan suatu masalah/riset. Dasar pemikiran ini harus melandasi proses pembelajaran sains di ITB. Penekanan pendidikan/pelajaran sains harus diletakkan pada metodologi sains (logico-empiricism). Mahasiswa harus diajak ikut serta dalam proses ini untuk memecahkan berbagai masalah / riset :

a. problem based learning : melalui proses belajar ini sekelompok mahasiswa diajak untuk merumuskan berbagai persoalan yang ada di alam sekelilingnya atau persoalan di industri  ,lalu  bekerja sama untuk memecahkannya dengan metoda ilmiah.

b. project based learning : melalui proses belajar ini sekelompok mahasiswa harus merumuskan suatu project untuk memahami gejala alam atau yang berorientasi misi dan menyelesaikannya dengan bekerja sama dengan memakai metoda ilmiah.

c. research based learning : melalui proses belajar ini sekelompok mahasiswa merumuskan suatu masalah  resarch dan melalui proses logico-empiricism  berkontribusi dalam memahami dan memperoleh pengetahuan baru .

 

Penelitian sains fundamental harus mendapat wahana yang layak untuk memelihara kompetensi global para ilmuwan kita. Dengan berkembangnya kemampuan ilmuwan, peran sains juga diharapkan dalam riset berorientasi misi untuk memecahkan berbagai masalah nasional.

 

Pengembangan sains perlu memanfaatkan  sumber alam/ lab alam Benua Maritim Indonesia, supaya kita dapat memanfaatkan keunggulan kompetitif dan pengembangan sains yang berakar pada bumi Indonesia.

 

8.   Penutup

 

Demikianlah dengan menguraikan semua pengembangan (endeavour) di atas, tiada salah bilamana dikatakan bahwa apapun yang menjadi usaha (strife) atau keinginan manusia yang mengupayakan suatu yang positip, terlebih bilamana telah terfokus, maka tidak ada hal yang disebut sebagai  kesia-siaan (neglect), yang ada hanyalah derap langkah maju untuk menghadapai abad 21.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

1.    Taufiq Hidayat, Dhani Herdiwijaya, Iratius Radiman, Moedji Raharto, Premana W. Premadi, Suhardja D. Wiramihardja (2001), 50 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia 1951 - 2001, Departemen Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung

2.    Research Directory , Faculty of Mathematics and Natural Sciences, ITB,Vol. 3 (2000) & Vol. 4 (2003)


1 comment:

HouwLiong said...

Sejak tahun 2006 KK Fisika Bumi dan Fisika komputasi tergabung menjadi KK Fisika Sistem Kompleks